DEDY MIZWAR DAN MANOJ PUNJABI OPTIMIS LAYAR LEBAR TETAP MAMPU BERSAING DENGAN OTT

 


DEDY MIZWAR DAN MANOJ PUNJABI OPTIMIS LAYAR LEBAR TETAP MAMPU BERSAING DENGAN OTT


Industri film Indonesia di saat ini mulai diramaikan dengan membanjirnya film-film lewat layanan streaming digital yang dikenal sebagai Over The Top atau OTT. Sebutlah OTT multinasional, seperti Netflix, Disney-Hotstar, dan Hulu, serta layanan lokal, seperti Go Play, Mola TV, Klik Film, dan Max Stream.

Pelantar (platform) baru ini bertumbuh dalam percepatan deret ukur. Hal ini cukup mengguncangkan industri film Indonesia dan mempengaruhi dasar dan superstrukur industri film Indonesia, Dan untuk membedah dampak terhadap industri perfilman tersebut, insan perfilman bersama Insan media dan Koperasi Seniman Indonesia, menggelar Seminar Webinar dengan narasumber Deddy Mizwar dan Manoj Punjabi serta dimoderatori oleh Arul.


Rudi Aryanto ketua Koperasi Seniman Indonesia mengaku bersyukur dengan digelarnya Seminar Webinar ini yang juga melibatkan wartawan. Dirinya berharap seminar ini bisa memberikan etalase, agar perfilman Indonesia bisa tumbuh, mesti juga terdampak Pandemi Covid 29, bagaimana kedepan  yang dikenal sebagai Over The Top atau OTT bisa bersinergi dengan Film layar lebar, ditengah maraknya industri film digital ini, harapnya.


Dalam paparannya H Deddy Mizwar Ketua Umum Persatuan Produksi Film Indonesia menegaskan, bahwa insan perfilman hingga hari ini masih berkreasi, dan film layar lebar akan tetap di gemari masyarakat.


Kalau orang lain menyangsikan keberlangsungan layar lebar, Deddy Mizwar justru sebaliknya, mempertanyakan Berapa lama OTT bisa bertahan, karena setelah bioskop di Surabaya, Solo dan kota-kota besar lainnya yang mulai dibuka, masyarakat pecinta Film sudah mulai memenuhi pertunjukan film layar lebar, hal ini karena film layar lebar memiliki kelebihan daripada film streaming, yaitu menyangkut kenyamanan.


Kalau saat ini jumlah penonton dibatasi 50% ini hanya berdampak pada menurunnya keuntungan pengelola Bioskop, namun untuk tetap sama dan dituntut untuk lebih kreatif lagi.


Sementara untuk mendongkrak pengunjung bioskop maka Pemerintah harus bisa membantu menciptakan situasi dan kondisi bioskop yang nyaman dan dan bebas dari ancaman covid-19. Kita tidak perlu subsidi tiket, namun upaya menciptakan ketenangan dan kenyamanan seperti pemberian subsidi swab Genos, dan insan film harus secepatnya diberikan vaksin covit 19, pinta H Deddy Mizwar.


Pengusaha Perfilman, Manoj Punjabi juga menegaskan, bahwa industri perfilman Indonesia adalah bagian dari bisnis yang harus bertahan dan tetap berkembang, ini berbeda dengan OTT sebagai film streaming.

Karena untuk pembuatan film layar lebar budgetnya tidak terbatas, OTT tidak akan bisa menggantikan bioskop, mesti terdampak krisis, namun kita terus berupaya, bagaimana membuat film lebih kreatif dan menarik. Kita masing-masing punya strategi memenuhi selera masyarakat pecinta film.


Diakuinya industri film di Indonesia maupun di luar negeri saat Pandemi Covid 19, semua mengalami kerugian hingga 98%, untuk menggairahkan kembali industri perfilman Indonesia, kita berharap Presiden RI  Bapak Jokowi bisa mendukung, paling tidak bersedia menyaksikan film layar lebar bersama masyarakat. Sehingga masyarakat juga yakin bahwa menyaksikan film di bioskop layar lebar tetap aman dan nyaman, harapnya. (Nrl)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.