Siapkan Generasi Penerus Reformasi, IP-KI dan UNITi Gelar Diskusi Kebangsaan

Siapkan Generasi Penerus Reformasi, IP-KI dan UNITi Gelar Diskusi Kebangsaan

Menjelang 21 tahun pasca Reformasi tahun 1998, Indonesia telah melalui serangkaian perubahan besar, yang berdampak pada tatanan pemerintahan serta semangat ber-demokrasi bagi setiap warga negaranya.

Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (lP-KI), kembali menjadi pelopor untuk menggelorakan nasionalisme kebangsaan. lP-KI bersama UNITi Indonesia, kembali menyelenggarakan diskusi kebangsaan untuk menyambut momen penting dalam pesta demokrasi kita dalam waktu dekat. Namun, hal ini bukanlah langkah strategis bagi lP-Kl maupun UNITi untuk berbagi mimbar kepada poses kepentingan yang sedang membutuhkan atensi terobosan.

Diskusi kali ini mengangkat judul “Meneruskan Reformasi dan Menjaga Cita-Cita Proklamasi". Poin-poin tuntutan Reformasi yang sejatinya memiliki agenda memberi pembatasan waktu kekuasaan seorang Presiden Negara, Penghapusan Dwi Fungsi Abri, Penegakan Supremasi Hukum, Amanademen UUD 1945, Pelaksanaan Otonomi Daerah dan upaya melakukan pembersihan praktek KKN pada masa itu, perlu dilakukan “Refleksi dan Evaluasi”, guna menjadi sumbangsaran kepada pemerintahan mendatang yang akan ditentukan dalam bingkai Demokrasi kita, dimana proses pemilihan langsung ini juga merupakan hasil dari proses Reformasi tersebut.


Upaya ini bukanlah perkara mudah, sebagai Organisasi Kebangsaan tertua , IP-Kl mencoba mengingatkan fakta kepada semua pihak yang memiliki kemampuan dan tanggung jawab atas konstitusi, bahwa agenda Reformasi berjalan cepat namun juga menjauh dari cita-cita Negara kita yang tercantum dalam Proklamasi dan pembukaan UUD 1945. Upaya penegakan hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah, prestasi KPK yang meningkat dalam pelaksanaan OTT, Otonomi Daerah melanggengkan ““Raja-Raja” lokal sehingga meniadakan esensi kearifan lokal yang seharusnya menjadi barometer implementasi nilai-nilai luhur dan mampu mereduksi upaya sebaran pemahaman radikal yang dapat memecah belah bangsa.

Diskusi kali ini turut menghadirkan narasumber yang berkompeten dan mampu memberikan pencerahan bersama untuk menyambut niatan luhur kami.


Pembukaan diskusi oleh Bapak Baskara Sukarya sebagai Ketua Umum UNlTi INDONESIA, dan Keynote Speech Diskusi ini, adalah mantan menteri pasca Reformasi dan merupakan salah satu Wakil Ketua Dewan Pembina DPP lP-Kl Bapak Prof. Dr. Bomer Pasaribu, S.H, M.Si. Proses perdiskusian berjalan melalui sumbangsih kesaksian sejarah, pemikiran dan pengalaman dari para pembicara yang kami yakini kapabilitas serta jam terbangnya, sudah teruji-sahi, seperti ; Ibu Sri mewakili Kepala Bapenas, pembicara ke-2 Prof. Dr. Anhar Gonggong sebagai seorang sejarawan, pembicara ke 3 Prof. Dr. Asep Saefuddin, M.Sc selaku Rektor Universitas Al-Azhar lndonesia dan terakhir sebagai pembicara ke 4 adalah Bapak Bambang Sulistomo selaku Ketua Umum DPP lP-Kl, dibawakan oleh moderator perwakilan generasi milenial yang juga merupakan Wakil Sekretaris Jenderal DPP IP-KI, saudara Troy.

Pro-Kontra tentang Reformasi yang memberikan dampak ter-amandemen nya UUD 1945, juga menjadi sudut pandang tajam yang dibahas dalam kesempatan ini. Momentum mempersiapkan estafet generasi penerus bangsa untuk bisa memiliki kesadaran, kemauan dan penambahan cakrawala berpikir dalam kesiapan mengisi tantangan zaman kedepan. Tanpa kehilangan arah dan tetap mampu menyerap butirbutir Pancasila sebagai roh jiwa raga dalam proses meng-aktualisasikan-nya, sesuai yang tertuang dalam isi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.



Sementara Ketua Umum IPKI, Dr Bambang Sulistomo juga menambahkan pihaknya bersyukur IP-KI masih militan mempertahankan Idiologi Pancasila, kita ini berkumpul untuk satu tanah air, satu bangsa dan berbahasa Indonesia. Kita adalah Bhinneka Tunggal Ika, untuk itu jangan lagi berbicara perbedaan, namun harus bersatu untuk kemajuan bangsa dan negara, agar anak cucu kita bisa hidup lebih baik di negara yang kita tercinta ini.

Ukuran negara kebangsaan berdasarkan Pancasila, harus ada keadilan sosial, agar NKRI "Utuh", untuk itu mari perjuangkan negara Pancasila, dengan menegakkan kebenaran melalui menegakkan hukum dan keadilan, pinta Putra Bung Tomo ini.

Prof Anhar Gonggong dalam paparannya menegaskan bahwa dalam reformasi memang terjadi perubahan besar, dan perubahan besar itu terjadi oleh karena kita mengharapkan sesuatu yang akan kita buat lebih baik. istilah apapun yang terjadi, perubahan dan perubahan itu terjadi oleh karena kita mau menciptakan sesuatu, yang pertanyaannya, apakah sesuatu yang lebih baik itu sudah terwujud sekarang, setelah 22 tahun berjalan, ungkapnya.

Untuk membangun kejayaan bangsa saat ini dan kedepan menurut budayawan ini, Pertama kali yang harus kita rubah adalah "mental" dan perubahan mental itu ada di pendidikan. Pertanyaannya merubah mental atau tidak, Apakah sistem pendidikan kita sekarang ini mampu merubah mental anak-anak didik, untuk tidak melihat dirinya, tetapi sekaligus melihat orang lain. karena ilmu yang dia peroleh itu nanti tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk kepentingan orang lain. dan itu terjadi pada Soekarno Hatta dan pergerakan, paparnya.

Ketua Umum UNITi, Baskara Sukarya Ketua Umum UNITi menegaskan, bahwa Reformasi telah membawa banyak catatan prestasi, akan tetapi kita juga jangan lengah dan janganlah kita berbangga diri, karena kita lihat masih banyak agenda reformasi yang belum mencapai tujuannya, bahkan di sana sini kita melihat bahwa reformasi ini cenderung melenceng daripada cita-cita semula.

Kita melihat bahwa penegakan hukum dan pemberantasan KKN dalam beberapa kasus tertentu masih berjalan ditempat dan ada kecenderungan tumpul keatas dan tajam kebawah,tegasnya.

Baskara juga melihat pelaksanaan Otonomi Daerah yang tadinya dicita-citakan untuk memakmurkan dan membesarkan masyarakat di daerah masing-masing, sekarang ini malah melenceng menjadi tumbuh suburnya daripada raja-raja kecil, yang tentunya mereka juga mempunyai kepentingan ekonomi kepentingan kelompok tersendiri. dan ini kita juga lihat dengan sekarang begitu banyaknya kepala kepala daerah Apakah Gubernur, Walikota, bupati yang tertangkap tangan tertangkap oleh KPK, juga tertangkap oleh Polisi maupun kejaksaan.

Selain daripada itu, penghapusan Dwifungsi ABRI juga sebagai simbol tegaknya supremasi kekuatan sipil, malah kita lihat membuat tumbuh suburnya kelompok-kelompok radikal dan juga mengacu kepada ideologi asing, khususnya sekarang kita lihat dengan kemajuan dari pada sosial media dan juga era digital dimana begitu derasnya informasi ini masuk dan tentunya kalau tidak disikapi dengan bijak, khususnya bagi golongan tertentu, untuk itu hal tersebut, harus disikapi dengan serius, para Generasi Millennial harus pula kita membekali mereka dengan ideologi Pancasila, yang sudah diwariskan kepada bangga ini, untuk menjadi orang Indonesia dan cinta kepada NKRI.

Selain daripada itu amandemen undang-undang Dasar 45 yang tujuan saat itu adalah untuk mengubah pasal yang berkaitan dengan masa jabatan presiden yang satu menjadi masa jabatan dua kali, tetapi kita juga sudah kebablasan, sehingga amandemen tersebut membuat batang tubuh undang-undang Dasar 45 sudah banyak yang keluar dari pembukaan undang-undang Dasar 45 itu sendiri, dampaknya 21 tahun reformasi berjalan memang kita lihat, ada hal-hal yang baik tetapi kita juga lihat masih kondisi kebangsaan semakin memburuk. untuk itu diperlukan adanya kebijakan dan langkah-langkah strategis bangsa ini untuk kembali menetapkan tujuan dan arah kompas bangsa ini, menuju cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, sebagaimana diamanatkan oleh bapak-bapak pendiri bangsa kita, semoga kami harapkan dengan diskusi kebangsaan pada hari ini, kita dapat memberikan masukan-masukan yang berarti khususnya dari para narasumber,

Dan juga kita semua dapat meneruskan Reformasi, agar tetap berjalan di relnya sesuai dengan cita-cita Proklamasi dan sesuai dengan harapan dan Pondasi yang diletakkan oleh bapak bapak pendiri bangsa, tegas Baskara Sukarya.(red)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.