AHOK BEBAS, AHOKER DILARANG ARAK ARAKAN

AHOK BEBAS, AHOKER DILARANG ARAK ARAKAN

Dalam beberapa hari lagi, salah satu ksatria Nusantara (Ahok) akan keluar dari penjara setelah menjalani hukuman atas tuduhan Penistaan Agama, atas desakan GNPF-MUI (sekarang mereka sebut PA 212), Kita senang dan gembira puji dan syukur atas kebebasan beliau dan patut untuk kita sambut dengan meriah serta memberikan semangat kepada AHOK, agar segera bangkit lagi untuk bareng-bareng putra bangsa lainnya, melibas koruptor-koruptor yang sudah merusak Negara ini, hal tersebut diungkapkan KP Norman Hadinegoro, Koordinator Relawan Ahokers Melinial.

Namun pernahkah terlintas di pikiran kita, bahwa INI LAGI PILPRES, ada pihak lain juga menanti kebebasan beliau ini ? Kita pasti bertanya, mengapa mereka menantinya ?
Saya dapat informasi dari teman-teman saya di daerah kalau pihak ada kelompok tertentu sudah mempersiapkan slogan-slogan tentang kebebasan Ahok ini dikaitkan dengan Jokowi, tegas KP Norman yang juga Ketua Umum PERNUSA (Perjuangan Rakyat Nusantara).

Sudah dipredeksi akan muncul slogan2 propaganda dari Kelompok yang ingin memperkeruh Pilpres maupun Pemilu 2019, seperti :
“Hati-hati, Penista Agama sudah keluar dari penjara”
“Jangan Pilih Presiden yang didukung oleh Penista Agama”
“Pendukung Jokowi menyambut dengan meriah keluarnya Penista Agama dari penjara”
“Jokowi bersahabat dengan Penista Agama” dan banyak slogan-slogan mirip ini yang mereka sudah kemas.

Kita tidak boleh menyepelekan slogan-slogan mereka ini, bukankah kita sudah mengalaminya di Pilkada DKI. Ahok kalah karena slogan “Penista Agama” itu. Sampai saat ini elektabilitas Jokowi masih jauh diatas PS, dan mereka hingga kini belum menemukan kelemahan Jokowi yang bisa menjadi pemicu untuk dijatuhkannya, tegas KP Norman.

Kalau kita tidak cerdik, suasana ini bisa dikemas mirip dengan kejadian di DKI oleh mereka (yang akhirnya Ahok kalah), waktu itu kita yakin Ahok tidak menista agama sehingga kita tidak serius mencegah tuduhan itu. Soo....., kita tidak boleh menganggap hal ini sepele kalau kita tidak mau mengalami kekalahan pahit seperti di DKI Jakarta.

Memang saat ini Pengikut GNPF/212 sudah banyak yang mendukung pasangan Jokowi-KH Maaruf, karena menurut mereka, menganggap peristiwa DKI pada saat itu berbeda dengan Pilpres sekarang...., tapi apakah ada jaminan mereka tidak akan berubah jika mereka disodori slogan-slogan di atas ?

Dengan munculnya slogan yang dikemas se-olah2 berniat “meng-Hukum Penista Agama” itu, maka memory kolektif mereka akan terusik dan kembali bergabung. ini bisa menjadi amunisi ampuh buat kubu 02 dalam menjatuhkan elektabilitas Jokowi.

Disamping itu issue itu, mungkin saja pendukung Jokowi saat ini yg sudah bergabung di TKN/TRN, ada yang tidak suka dengan Ahok. Hal ini bisa menimbulkan masalah tersendiri terhadap elektabilitas pak Jokowi.

Jujur kita memang sayang banget kepada Ahok dan sangat kecewa atas kekalahan di DKI kemarin. Kita harus gentle mengakui karena kita kecolongan, terlalu optimis, kurang membasis door to door, sibuk kumpul sana sini dan perang di medsos. Lihatlah sekarang hasil kerja penggantinya, jauh dibanding prestasi Ahok.

NAH....., sekarang pertanyaannya apakah kita sayang dengan AHOK dan JOKOWI dan kita mau beliau jadi presiden lagi? Jika IYA, kita harus cerdik, bagaimana caranya :

Sebagai relawan/simpatisan Ahok sebaiknya tidak menyambut keluarnya Ahok dengan arak2an atau upacara berlebihan. Bagi yang ikut dalam acara penyambutan mohon tidak menggunakan atribut2 ciri khas Relawan TKN Jokowi-Maruf, sehingga mereka tidak bisa mendokumentasi dan mengeluarkan slogan “Pendukung Jokowi menyambut dengan meriah keluarnya Penista Agama dari penjara”.

Bagi teman2 yang dekat dg Ahok, mohon disampaikan ke beliau agar (sementara ini) tidak memperlihatkan tentang kedekatan beliau dengan Jokowi sampai pilpres selesai. Mohon selektif juga dalam konferensi pers dan wawancara di TV, karena wartawan sangat lihai memancing pertanyaan sesuai sudut pandang media-nya masing2.

Ahok sebaiknya tidak terlibat dulu dengan pilpres ini dan bila perlu beliau tinggal di luar negeri saja sampai pilpres selesai, supaya tidak dikejar2 kaum paparazi yang licik sehingga mereka mengeluarkan slogan : “Jangan Pilih Presiden yang didukung oleh Penista Agama” atau slogan “Jokowi bersahabat dengan Penista Agama”.

Saya ikut berjuang memenangkan AHOK dari ngumpulin KTP dan Relawan JOKOWI dan sangat berharap nanti Pak Jokowi Menang mau mengangkat pak Ahok sebagai Menteri Dalam Negeri atau KPK agar bisa mengawasi gerak gerik seluruh Gub/Bupati/Walikota seluruh Indonesia, mengajak pemimpin2 daerah agar tidak korupsi dan tidak mengeluarkan PerDa yang diskriminatif.

Bagi teman2 Ring-1 PakDe, kami memohon agar beliau berekspresi biasa2 saja dan memilih kata2 yang tepat ketika wartawan usil meminta pendapatnya tentang bebasnya pak Ahok ini.
Mohon maaf jika ada yang tidak setuju dengan pendapat saya di atas......., Saya hanya menyampaikan kepedulian saya untuk menciptakan suasana kondusif memenangkan Jokowi yang dilatar belakangi oleh keprihatinan dan kekecewaan saya atas kalahnya pak Ahok (akibat slogan penista agama) di Pilkada DKI dulu.

Jika teman-teman relawan setuju, tolong hal ini kita jadikan perhatian bersama agar tidak terjadi hal-hal yg tidak kita harapkan, papar Kanjeng Norman Ketua Koordinator AHOKERS.(Red)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.