KECAPI BATARA Gelar Seminar Budaya Warga Tionghoa Indonesia

KECAPI BATARA Gelar Seminar Budaya Warga Tionghoa Indonesia

Bertempat di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, Kelompok dan pemerhati budaya Nusantara (KECAPI BATARA) pada Sabtu 6 September 2018 Menggelar seminar budaya masyarakat Tionghoa Indonesia.

Ketua Kecapi Batara, Diyah Wara disela acara tersebut pada wartawan menjelaskan bahwa Kegiatan bedah buku dan seminar hari ini adalah kegiatan mengangkat budaya Tionghoa, berkaitan juga dengan perayaan "Kue Bulan" yang biasa kita peringati pada bulan September, yaitu bentuk bulat bundar. itu untuk melambangkan harmonisasi persaudaraan, kekeluargaan, kekerabatan, yaitu acara ini akan menjadi satu ajang pemersatu, jadi acaranya ini yang pertama itu udah sesi pertama, berbagi cerita dari National Geographic Indonesia tentang budaya Tionghoa, dan kemudian nanti ada diskusi budaya tentang budaya peranakan dan kemudian nanti jam 01.00 akan ada tentang diskusi publik tentang budaya Tionghoa dari budaya lain, tentang Penyerbukan silang budaya, dari sana baru terakhir ditutup dengan arti tentang teh, untuk itu diharapakan ini akan menjadi satu inisiatif bagi pelestarian budaya Tionghoa, bawa Budaya Tiongkok itu bagian dari budaya bangsa, tegasnya.

Pembicara pertama, Wartawan Kompas yang juga menulis di Majalah National Geographik mengungkapkan, Dalam National Geographik Indonesia edisi khusus juga mengungkap keragaman masyarakat Tangerang, yang hidup rukun berdampingan antara warga keturunan Tionghoa dengan masyarakat setempat, budaya peranakan Tionghoa Indonesia juga berkembang dengan baik.

Bangunan rumah maupun tempat ibadah seperti Klenteng yang berusia ratusan tahun juga terpelihara dengan baik, dan tradisi masyarakat lokal juga musik juga  ada yang dipengaruhi unsur dari Tiongkok, seperti Cokek dan Gambang Kromong sering digelar saat upacara tradisional, paparnya.

Tradisi makan 12 mangkok dengan sesajian pada pasangan pengantin dengan aneka rasa merupakan ragam kehidupan yang akan dijalani, seperti manis, asin, pedas dan lainnya itu filosofi dari leluhur, prosesi tradisi kemudian dilanjutkan pernikahan nasional, ungkapnya.(Nrl)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.