SPANDUK GELAP PENOLAKAN ADHYAKSA DAULT, CIDERAI MUNAS GERAKAN PRAMUKA

SPANDUK GELAP PENOLAKAN ADHYAKSA DAULT, CIDERAI MUNAS GERAKAN PRAMUKA

Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka, yang salahsatu agendanya adalah pembentukan Pengurus Nasional Gerakan Pramuka serta pemilihan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas), yang diharapkan berlangsung demokratis, namun dirasakan terjadi ketidaknyamanan peserta, dimana dalam Monas ke 10 yang digelar di Kendari Sulawesi Tenggara tersebut, diduga ada kelompok pendukung salahsatu calon, yang melakukan penekanan agar mendukung salahsatu kandidat. Sehingga membuat Munas Gerakan Pramuka semakin tidak kondusif.

Sepanjang sejarah Gerakan Pramuka sudah banyak yang mencalonkan diri jadi Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, namun semua mereka menghormati dan mengikuti norma-norma yang berlaku di Gerakan Pramuka.

Beberapa Kwarda mengaku sangat tertekan karena sejak Gerakan Pramuka didirikan tahun 1961 belum pernah ada gaya intervensi dalam pemilihan seperti ini kepada Gerakan Pramuka. “Ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah Pramuka, tidak ada calon Ketua Kwarnas yang menggunakan orang yang bukan peserta Munas untuk memanggil, menekan, memaksa Kwarda untuk mendukung calon tertentu”, ujar Pengurus Kwarda yang tidak mau disebutkan namanya di Kendari, Jumat 28 September 2018

Situasi ini sudah berlangsung sejak hari pertama Munas Gerakan Pramuka pada Rabu, 26 September 2018. Berbagai spanduk gelap dipasang untuk menyudutkan Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault. Adhyaksa Daut terus dikaitkan dengan alumni 212 dan pendukung tim sukses Prabowo-Sandiaga Uno. Spanduk ini tiba-tiba muncul di beberapa lokasi di Kota Kendari yang hingga hari ini tidak diketahui siapa aktor dan donatur di belakangnya.

Para Ketua Kwarda merasa sangat terganggu dan beberapa ingin pulang karena tertekan untuk mendukung salahsatu calon, dengan dipaksa menandatangani pernyataan bermaterai dan cap jempol.(red)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.