Ryamizard Ryacudu Menteri Pertahanan Sosok Pemikir Yang Demokratis

Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu menegaskan, selama meniti karirnya di TNI, dirinya sama sekali tidak pernah terlibat dalam kasus pelanggaran HAM.

"Kamu tahu almahrum Munir? Dia mengatakan satu-satunya jenderal yang tidak terlibat HAM yaitu Ryamizard," kata Ryamizard di halaman Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Ryamizard mempertanyakan sejumlah tudingan yang menyebut dia sebagai pelanggar HAM. "Semua tuduhan itu tidak terbukti, selama 35 tahun saya jadi tentara, saya tidak pernah melanggar HAM," sambungnya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) ini menambahkan, dirinya juga tidak pernah meminta jabatan sebagai menteri kepada Jokowi. "Saya juga tidak meminta-minta, saya baru tahu dan dirayu untuk menjadi menteri," pungkasnya.

Nama Ryamizard Ryacudu masuk dalam kabinet Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). Dia dipilih sebagai menteri pertahanan.

"Ryamyzard Ryacudu, militer pemikir, demokratis, dan loyal ke NKRI. Pernah jadi KSAD, dan saya minta jaga kebijakan pertahanan kita," ujar Jokowi saat mengumumkan nama menterinya di halaman belakang Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (26/10/2014).

Pria asal Palembang, Sumatera Selatan tersebut memiliki latar belakang militer. Ryamizard mengawali karir militernya sebagai Komandan Peleton Kodam XII/Tanjung Pura pada 15 November 1976. Karir militer Ryamizard di TNI tergolong moncer. Beberapa posisi strtegis pernah diembannya. Salah satunya, pernah menjabat Pangdam Jaya/Jayakarta di era pemerintahan Presiden Abdurachman Wahid (Gus Dur).

Saat terjadinya gesekan elit nasional pada masa Presiden Gus Dur, sebagai Pangdam Jaya Ryamizard dengan ketegasannya mengancam siapa saja yang akan mengganggu keamanan di wilayahnya. Selepas dari Kodam Jaya, Ryamizard mendapat promosi bintang tiga sebagai Panglima Kostrad menggantikan Letjen TNI Agus Wirahadikusumah.

Ryamizard pun dikenal piawai dalam merangkul teman. Hal ini dibuktikan saat suami dari anak mantan Wakil Presiden Try Sutrisno tersebut mendapat promosi sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Lulusan AKABRI 1974 ini berhasil merangkul unsur TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara, saat apel siaga di Lapangan Monas pada Juli 2001. Hal ini menarik KSAD Endriartono Sutarto untuk menunjuknya sebagai Wakil KSAD dan kemudian mengantikannya menjadi KSAD pada periode 2002-2005.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.