Cegah Banjir BNPB - BPBD DKI Dan TNI AU, Gunakan Teknologi Modifikasi Cuaca

Hujan deras yang mengguyur dalam beberapa hari terakhir menyebabkan bencana banjir di Jabodetabek. Selain menewaskan lima warga, banjir juga melumpuhkan sebagian wilayah Jakarta. Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan pemerintah pusat belum optimal mengendalikan banjir di Ibu Kota.

Ribuan warga DKI Jakarta masih mengungsi di titik-titik pengungsian, Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebutkan, 2.466 orang mengungsi. Adapun Polda Metro Jaya menyebutkan, ada 10.523 warga yang tinggal di pengungsian. BPBD DKI Jakarta mencatat 175 rukun warga di 33 kelurahan terendam. Semua pihak kembali diingatkan bahwa bencana ini adalah akibat kesalahan pengelolaan lingkungan Jabodetabek.

Dalam prakiraan cuaca BMKG memprediksi tanggal 19 Januari dan tanggal 22,23 dan 24 Januari Curah Hujan di Bogor, Depok dan Jakarta sangat tinggi, hal tersebut memungkinkan air yang melintas melalui Jakarta juga semakin tinggi, hal tersebut memungkinkan Jakarta akan membali dilanja banjir yang lebih besar dari beberapa hari lalu, inilah yang kini perlu di waspadai semua pihak.
Upaya pencegahan

Sebagai langkah jangka pendek mengurangi potensi banjir di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPPT, dan TNI Angkatan Udara, mulai melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mendistribusikan hujan keluar daerah Jakarta. Selasa siang, teknologi rekayasa itu telah digunakan dan akan dilaksanakan selama dua bulan ke depan hingga Maret, dengan menelan biaya Rp 20 miliar.

Satu pesawat Hercules dan dua pesawat Casa akan diberangkatkan guna menyemai NaCl (natrium klorida) dan bahan kimia lainnya untuk melakukan modifikasi hujan.

Kepala BNPB Samsul Maarif saat jumpa PERS di Lanud Halim Perdanakusuma mengatakan, modifikasi cuaca ini tak akan merugikan daerah lain. Penyemaian NaCl yang berguna mempercepat hujan akan dilaksanakan di atas perairan Laut Jawa dan Selat Sunda. Rekayasa hujan ini akan dilakukan pada waktu tertentu, tergantung cuaca, selama dua bulan mendatang. Hingga saat ini telah diproduksi NaCl dan bahan kimia pendukungnya sebanyak 42 ton.

Semestinya, menurut Samsul, modifikasi cuaca ini sudah dapat dilaksanakan pada bulan Desember untuk mengurangi potensi banjir di Jakarta. Itu terjadi karena penetapan status Siaga Darurat dari Gubernur DKI Jakarta baru dikeluarkan 13 Januari.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Provinsi DKI Wiriatmoko menjelaskan, keterlambatan penetapan Siaga Darurat itu antara lain disebabkan belum juga disahkannya APBD DKI Jakarta, sehingga Pemda DKI belum bias mengucurkan dana APBD untuk kegiatan TMC ini. Modifikasi cuaca saat ini akan dibiayai oleh BNPB serta bantuan dari APBD DKI, oleh sebab itu dirinya berharap DPRD DKI untuk dapat segera mengesahkan APBD DKI, harapnya.



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.