Ibu Ani Yudhoyono dan Taufik Kiemas Terima Bintang Adipradana


Pemerintah Indonesia akan menganugerahkan Bintang Republik Indonesia Adipradana kepada Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Taufiq Kiemas atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi keutuhan bangsa dan negara.

"Bintang Republik Indonesia Adipradana diadakan untuk memberi kehormatan istimewa kepada mereka yang berjasa sangat luar biasa guna keutuhan, kelangsungan dan kejayaan Negara," kata Sekjen MPR, Edi Sirega,r kepada wartawan, di Jakarta, Kamis.

Siregar menjelaskan, penyematan tanda kehormatan itu dilakukan langsung Presiden Susilo Yudhoyono di Istana Negara, Jumat (12/8), dalam rangkaian Peringatan HUT ke-66 Proklamasi Kemerdeekaan Republik Indonesia.

Selain Kiemas, penerima Bintang Republik Indonesia Adipradana kali ini antara lain adalah Ny Shinta Nuriah (istri presiden ke-4 Republik Indonesia) dan Ny Ani Yudhoyono (istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono).

Menurut Siregar, usulan penerima tanda kehormatan itu sudah disampaikan MPR sejak Mei lalu kepada pemerintah sebagai rangkaian peringatan HUT ke-66 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

"MPR mengusulkan kepada pemerintah agar memberikan tanda kehormatan kepada pimpinan MPR. Usulan itu disampaikan Mei 2011 lalu," kata Edi Siregar.

Namun, lanjut Siregar, Ketua MPR juga meminta agar nama Ny Ani Yudhoyono, Ny Shinta Nuriah, Ny Hamzah Haz dan Ny Jusuf Kalla juga diusulkan untuk mendapatkan tanda kehormatan tersebut.

"Nah untuk Ny Hamzah Haz dan Ny Jusuf Kalla, tanda kehormatan yang diberikan adalah Bintang Mahaputera Adipradana," kata Siregar.

Dalam pasal 9 UU Nomor 20/2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan; derajat atau tingkat Bintang Republik Indonesia tertinggi adalah Bintang Republik Indonesia Adipurna, setelah itu adalah Bintang Republik Adipradana.

Nama besar lainnya yang pernah menerima Bintang Republik Indonesia Adipradana antara lain adalah Jenderal Besar Sudirman (disematkan pada 1961), Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani (disematkan 1965), Jenderal TNI (Pur) M.Yusuf (disematkan pada 1995).

Sedangkan dari kalangan sipil, antara lain adalah Sutan Sjahrir (1998), Sjafruddin Prawiranegara (disematkan 1998), Ny Hj Fatmawati Soekarno (terkenal dengan panggilan Ibu Fat/1999), Adam Malik sebagai Menteri Luar Negeri (1973).dan Prof Dr Ing BJ Habibie sebagai Wapres (1998).

Bendera Sang Saka Merah Putih (bendera pusaka) dijahit dengan tangan langsung oleh Ibu Fat untuk kemudian dikibarkan tepat pada 17 Agustus 1945 di halaman rumah Jalan Pegangsaan Nomor 56, Jakarta Pusat, tempat proklamasi dikumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Setelah selama beberapa belas tahun dikibarkan langsung setiap upacara peringatan kemerdekaan bangsa di Istana Merdeka, Sang Saka Dwi Warna dibuatkan duplikatnya. Duplikat sesuai bendera otentik itulah yang kini dikibarkan dan disimpan dalam upacara kebesaran negara setiap 17 Agustus oleh setiap presiden Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.