KAMPANYE PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN


Kasus kematian di jalan raya khususnya di Jakarta masih mengerikan. Dalam sehari rata-rata 2-3 orang tewas. Tak ayal, jalan raya menjadi mesin pembunuh yang menakutkan. Mirisnya, korban kecelakaan lalu lintas umumnya pria usia produktif.

Masih tingginya angka kecelakaan di jalan disebabkan beberapa faktor, yaitu kelalaian pengendara, kondisi kendaraan, dan infrastruktur jalan. Dan ternyata masih ada faktor lain yang turut menyumbang, dan terkadang kurang disadari. Yakni, proses pertolongan pertama pada kecelakaan. 

Diperkirakan 50 persen dari kasus kematian atau cacat permanen dalam kecelakaan lalu lintas adalah lemahnya kesadaran dalam proses pertolongan pertama. Masih banyak masyarakat yang awam. Misalnya, pertolongan pertama yang spontan dan tidak tepat pada korban yang mengalami cidera tulang punggung, justru mengakibatkan kelumpuhan seumur hidup. 

Ada juga  ada korban tabrak lari yang dibiarkan tergeletak begitu saja lantaran takut berurusan panjang dengan polisi. Pada situasi darurat, tak jarang si penolong harus adu-mulut terlebih dahulu dengan sopir yang kendaraannya diminta mengantarkan korban ke rumah sakit. Dari situ, ada banyak waktu yang terbuang percuma. Bagi korban yang mengalami cidera serius setiap detik sangat berharga lantaran menyangkut nyawa.  Setidaknya ini membuktinya masyarakat belum memahami betapa berharganya pertolongan kecelakaan bagi korban, sehingga urusan yang tidak penting harus dikesampingkan, karena yang utama adalah si korban. 

Untuk menekan angka kecelakaan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat, Palang Merah Indonesia (PMI) mengkampanyekan pentingnya pertolongan pertama keselamatan di jalan raya bagi para pengguna jalan. Kampanye ini dilakukan dengan melibatkan sekitar 250 relawan dan staf PMI dengan membagikan stiker dan membentangkan spanduk berisikan pesan-pesan keselamatan di jalan raya di Bundaran Hotel Indonesia, pekan lalu.

Kementerian Perhubungan mencatat pada tahun 2009 terdapat 62.960 orang korban kecelakaan. Dari angka tersebut, 19.979 orang meninggal dunia, 23.469 menderita luka berat, dan 62.936 luka ringan. 
Penyebab kecelakaan di jalan raya ini adalah akibat kelalaian berkendara dan masyarakat yang tidak mengetahui bagaimana melakukan pertolongan pertama di tempat kejadian saat terjadi kecelakaan.   

"Kami ingin meningkatkan pengetahuan para pengguna jalan raya, baik itu pengendara kendaraan maupun pejalan kaki, melalui pesan-pesan tentang bagaimana selamat di jalan raya. Dengan demikian akan membantu mengurangi angka kematian maupun kecacatan akibat kecelakaan,” kata Ketua Umum Jusuf Kalla.

Seruan pentingnya keselamatan di jalan raya ini disampaikan melalui pesan-pesan yang berhubungan dengan keselamatan dan bagaimana menghindari kecelakaan di jalan raya, seperti tidak menelepon saat berkendara, memakai helm dengan penguncinya, menggunakan sabuk pengaman, dan menggunakan jembatan penyebrangan bagi pejalan kaki.

Pada kampanye ini, PMI turut membagikan petunjuk untuk melakukan pertolongan pertama pada beberapa kasus kecelakaan di antaranya luka bakar, luka sayat, bagaimana mengatasi syok atau trauma dan sebagainya. Kampanye pertolongan pertama keselamatan di jalan raya ini merupakan bagian dari Program Kerja Prioritas PMI mengenai pencegahan (preventif). Dalam menjalankannya, kampanye ini melibatkan pihak-pihak terkait yaitu Kementerian Perhubungan dan Kementerian Kesehatan yang memiliki program sama.

"Upaya untuk mencegah kecelakaan di jalan ini tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja (pemerintah). Butuh pelibatan pihak lain yang memiliki sumber daya dan kapasitas untuk bersama-sama menurunkan dampak kecelakaan," ujar Kalla yang juga mantan Wakil Presiden RI ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.